
Balibo five
Menggelitik Saraf ”Sensi” Indonesia
Baru pukul 6 sore ketika saya sampai di TIM. Pelataran 21 sudah penuh dengan orang mengantri, untuk mendapatkan kursi menonton film Balibo Five ini. Padahal acara baru akan dimulai pukul 19.00. Film besutan sutradara Australia, Rob Conolly saat ini belum dapat dinikmati secara umum. Badan Sensor Film tidak meloloskan dengan alasan ceritanya terlalu memojokan Indonesia.
Film ini berawal dari sebuah wawancara, yang dilakukan oleh wartawan kepada penduduk Timor Leste yang bernama Julia. Beliau kini telah dewasa dan sempat menjadi saksi mata Invansi Indonesia ke Timor Leste 1975. Dan dari tuturnya, cerita kemudian mengalir.
Mulailah tampak tentara Fretelin bergerilya, setting luas Timor Leste yang panas, gersang. Penduduk dengan ciri kulit khas sedikit gelap, rambut ikal, namun manis. Beberapa diantaranya berwajah agak terang dengan tekstur kebule-bulean. Sudah dapat tertebak bau bau Portugisnya, entah itu campuran atau tidak.
Ramos Horta digambarkan menjadi tokoh sentral. Dengan gayanya yang selengekan berangkat ke Australia mencari wartawan untuk dijadikan kepala kantor berita Timor Leste. Pilihannya jatuh kepada Roger East, jurnalis senior yang memiliki sedikit gejala psikotik. Namun bukan hal yang mudah pula untuk membujuk ”Bapak” satu ini. Karena Roger merasa bahwa usianya tidak lagi muda. Horta tak mau kalah dengan hasil ”tangkapannya” dia berkata bahwa yang muda-muda sudah tak tahu entah dimana hilang di negaranya. Pihak Australia pun tak mau tahu dimana letak para muda berusia 21-28 tahun ini.
Penonton beserta saya dibawa masuk dalam alur yang dimainkan dalam film tersebut. Sebentar maju, sebentar mundur, butuh perhatian agak berlebih untuk mencerna. Namun jantung tidak diberi waktu untuk bernafas hanya tercengang. Mata saya tidak biasa melihat film perang yang melakonkan Indonesia sebagai penjahat. Dan dibuat dengan bagus sekali, bukan sekedar kualitas penjahat di film laga. Atau gestur kaku polisi pada sinetron.
Kejadian lucu banyak terselip namun sungguh manusiawi. Saat Roger East ngotot mencari kelima jurnalis muda yang hilang itu. Dia ngotot berjalan ke Benteng Balibo, tempat terakhir jurnalis itu terdengar jejaknya.
Ketika memasuki belantara bersama Horta, tanpa disangka, helikopter terbang rendah dan kemudian menembaki mereka dengan senapan mesin. Horta langsung berlari menyembunyikan diri, sementara Roger terseok-seok karena usia berlindung di akar pepohonan besar. Saat kondisi mulai tenang Horta menghampiri Roger dan Roger berteriak minta pulang. Bukan pulang ke Dili tapi ke Australia karena begitu takut dan kagetnya.
Di sebuah desa tak bernama Roger dan Horta berjalan dan menemukan seisi desa telah terbakar. Anak-anak perempuan, rumah tak tersisa hanya asap dan mayat. Mereka menangis berdua, mengecam dan membuat perkuburan dibantu perempuan-perempuan desa yang masih ada. Padahal di tempat yang sama kelima jurnalis tersebut pernah singgah. Balibo five membuat berita tentang penduduk yang terheran-heran tentang alasan Indonesia menginvansi Timor Leste. Tentang alasan Portugis meninggalkan mereka, dan tentang Australia yang tidak membantu. Dan mereka bukanlah komunis.
Pada akhir film memang sudah bisa tertebak bahwa kelima jurnalis dan juga Roger East akhirnya meninggal dengan cara yang tragis. Kelima wartawan terkepung diantara pertempuran benteng Balibo. Karena teledor dan saling bersaing mendapatkan gambar terbagus, sehingga lengah. Kemudian tidak ada lagi kesempatan untuk diselamatkan oleh Fretelin. Dengan tersudut berlarian mereka masuk dalam satu ruangan. Ditembak dan ditusuk oleh tentara Indonesia. Agar jejak penganiayaan hilang dan proses invansi tidak diketahui publik, kaset beserta mayat dibakar.
Sementara Roger East sampai akhir hayatnya tidak mau keluar dari Dili. Menjalankan kantor berita meskipun Horta menawarkannya untuk keluar. Dengan penuh idealisme dia berkata ”Jika semua pergi, tidak ada lagi wartawan tersisa. Siapa yang akan memberitakan, biarkan saya disini,” ujarnya sambil melepas Horta.
Roger East meninggal dengan cara mengenaskan, ditembaki di pinggir dermaga oleh tentara Indonesia. Sambil terus menerus berteriak ”Iam Australian!”.
Itulah perang, proses invasi, pendudukan, penembakan, pembunuhan politik berkecamuk menjadi kepentingan. Siapa yang mau menyalahkan siapa tidak lagi penting selain tangisan berkepanjangan dan cerita kesedihan. Ketika film ini ditayangkan di Dili, bahkan sudah banyak yang tidak peduli. Bagi orang Indonesia sendiri ketika kisah ini berbuntut kontroversi, banyak yang berbondong-bondong menonton. Padahal belum tentu mereka mengerti benar alur dan esensi cerita.
Sejarah memang tidak boleh hilang, Greg Shackleton, Brian Peters, Malcolm Rennie, Gary Cunningham, dan Toney Steward jangan sampai dilupakan.Walaupun demikian, marilah kita bersama-sama menilai dari obyektifitas, tidak saling menyalahkan.
Tentu saja film ini juga tidak sepenuhnya benar ketika sudah menjadi komersil. Bumbu-bumbu, animasi, sound effect bertugas untuk mengaduk emosi penonton. Daripada ribut mencekal dan tidak terbuka lebih baik membuat diskusi-diskusi. Seperti yang dilakukan AJI (Aliansi Jurnalis Independen) pada tanggal 7 Desember 2009 lalu ketika saya menonton film ini.
0 comments:
Poskan Komentar
please leave a coment