Rabu, 17 Februari 2010

happy fasting, everyone




Happy Fasting Everyone!

Hari ini adalah Hari Rabu Abu, hari yang biasanya selalu saya lupakan selama bertahun-tahun. Jika bukan karena kemarin Minggu saya ke gereja. Hari ini akan berjalan menguap begitu saja.
Tapi ya sudahlah, saya hari ini ingin sok merenung mengenai kebiasaan Gereja mentowel2kan abu di kepala umatnya setiap awal masa puasa tiba.

Rabu abu ini adalah hari awalan untuk masa Prapaskah, yaitu hari dimana menjadi penanda bahwa umat Katolik akan berpuasa selama 40 hari. Puasanya dihitung tanpa Hari Minggu jadi totalnya adalah 44 hari. Tradisi ini merupakan turunan dari Israel Kuno, yang akan menaburkan abu di kepalanya, sebagai tanda penyesalan, pertobatan dan kesedihan.

Sementara di Gereja abu di dapatkan dari hasil pembakaran daun Palma yang kemudian diberi air sedikit. Umat yang berada dalam Gereja, dan mengikuti perayaan akan diberi Salib abu sebagai tanda pertobatan. Sambil para diakon (orang berjubah putih yang membatu tugas Gereja) atau Pastur berkata lirih “Bertobatlah dan Percayalah Pada Injil!”.

Pada waktu iring-iringan umat berjalan, sayapun ikut larut didalamnya. Mata saya sejujurnya sangat mengantuk, dan kemudian menerima coretan tersebut. Maknyus agak lembab-lembab bagaimana begitu. Dengan menunduk serta berusaha bersahaja, saya kembali dan menghaturkan syukur dengan berlutut di tempat duduk saya.

Saat itulah saya merasa siap untuk berpuasa. Pastur yang memimpin misa hari ini berceloteh banyak mengenai hal ini. Dan rasanya dia sengaja berbicara panjang lebar agar umat seperti saya tidak segera kembali ke kantor.

Dia berkata bahwa banyak yang mengira bahwa puasa umat Katolik sangatlah mudah. Ya, memang pada kenyataanya begitu mudah untuk diucapkan. Makan kenyang sekali dalam sehari bagi kita yang telah berumur 18-59 tahun. Itupun dapat ditafsirkan makan tiga kali dengan komposisi dua kali tidak kenyang dan satu kali kenyang.

Apakah itu akan menjadi gampang, tanya pastur itu kepada kami. Dan saya sekuat tenaga membuka mata.

Inti dari pada puasa itu sebenarnya adalah kerelaan. Rela untuk mempersembahkan dan berubah serta bertobat, lanjutnya.

Kita orang Katolik tidak mengenal batal, jika tidak sengaja memakan daging. Tidak usah merasa itu batal, langsung hajar saja pantang kembali. Tuhan tidak akan memaksa manusia, karena setiap manusia memiliki standard yang berbeda. Ada satu orang yang tidak makan 3 hari masih kuat, ada yang satu jam sekali tidak makan sudah sakit perut. Tapi jika dalam satu jam itu dia berusaha dan mempersembahkannya, itu sudah puasa.

Awali dengan niat dan kerelaan sehingga menjadi mudah. Jangan sampai puasa karena terpaksa.

Sambil terus mendengarkan itu saya manggut-manggut. Sudah berapa lama saya tidak puasa. Melawan kebiasaan ini dengan berbagai argumentasi berisi rasionalisasi otak saya. Sebelum umur 18 tahun saya mengatakan pantang belajar. Sekarang saya sudah hampir kepala tiga, hampir-hampir melegalkan puasa bekerja, kalau tidak ingat letak meja boss di belakang komputer saya.

Akhirnya, tibalah pada pembicaraan tentang sikap yang harus diambil saat berpuasa ataupun pantang. Kita tidak dianjurkan untuk pamer dan mengembar-gemborkan puasa. Tapi jika ada yang bertanya dijawab saja tidak apa-apa Tidak diperbolehkan untuk minta permisi dan menjadi tidak produktif karena puasa. Intinya jalani saja hari biasamu dan dikasih variasi pemanis puasa.

Sudah hampir jam setengah dua ketika semua prosesi itu selesai. Dan saya mengingat tadi pagi makan banyak banget, ditraktir Jimmy. Sahabat saya Nancy bertanya masalah boleh merokok atau tidak? Hendry marketing saya, senyam senyum mengganggu saya dengan YM tidak penting. Mas Agus designer saya, mogok ngerjain iklan. Kemudian tiba-tiba banyak yang berkomentar mengenai kepala saya yang berabu seperti habis ditonjok.

Hhhhhhhh (menarik nafas panjang)

Akhirnya saya memutuskan untuk puasa ngambek hehehehhehe….(tetep ngeles, males puasa)
Happy Fasting everyone!

0 comments:

Poskan Komentar

please leave a coment