Kamis, 19 Januari 2012

Gula dan Rempah



Waktu kujumput gula mencari manis, ibuku berkata tambahkan sedikit rempah

Kutanyakan (apa) sebabnya? Tersenyum ia menjawab,"Agar rasanya bermakna,"

Kamis, 08 Desember 2011

Cukup Biarkan


Sebenarnya cukup biarkan kami gila untuk mencinta. Mencakar dan mencaci tersungkur tercabik.

Sebenarnya cukup biarkan kami meratap untuk mencinta. Memenuhi debuan puisi berpeluhkan tangisan.

Toh kami sedang berproses mencari-cari tembok yang akan menghancurkan mimpi tersebut.

Tapi jangan kibuli semuanya dengan erangan aturan purba tentang omong kosong.

Fakta prematur tempuhan perjalanan baru.

Kami ini berotak kok, kami ini bernyawa, kami ini bukan boneka.

Kami ini anak anak berpendidikan yang sudah dewasa.


Cukup biarkan kami meradang untuk mencinta.

Berikan saja vodka, pelukan hangat dan senyuman dari semua pilihan kepedulian kalian.

Kamis, 23 September 2010


Saya muak dengan tulisan
Dengan naga-naga menukik ke bawah sadar berebutan
Lapar!

Saya marah dengan tulisan
Dengan meterorit abjad berhamburan memaksa
Tertata!

Saya mengerang pada tulisan berharap merangkaikan harga
Sampah…!

Anjing kurap petaka malam!

Kamis, 05 Agustus 2010

dan kamu..

Aku bertaruh pada jarak. Tentang kerinduan dan malam. Yang tidak akan pernah hilang ...

(Juga hujan,rumput,matahari dan kamu)

Jumat, 30 Juli 2010

0 kilometer




Dan Tuhan berkata kepada Abraham. Lihatlah bintang di langit seta pasir di pantai sejah itulah kau akan berkembang biak.

------
Ah malam yang benar.
Terimaksih telah melukiskan bintang.
Kami malas berpantun, kami enggan bersajak.
Kami duduk bersama di pasir mencari drama.

Nelayan tadi tidak kunjung tampak. Pasangan tua menyuarakan kegirangan. Lagu lama bergaung sendu.

Kau tahu hari apa ini malam?
Hari Kamu dan Kamu berbicara rahasia
Hari saat bersyukur pada limpahan air mata yang ta habis memenuhi laut.

(Begitulah kami mendefinisikan capai, berlarian mengejar. Mencari, terdampar...)

Aku yakin ceritamu jauh lebih banyak dari yang sempat terbaca.

(Dia meyakini kalau kasih juga semudah gelombang pasang.)

Jangan salahkan kami, jika ucapan senang berlebihan kali ini.
Namun kami bahagia atas tosca yang mewarnai air.
Kilau plankton terkejut dan belaian angin.

Aku berdebar dalam ketidakterbatasan (Dia tertawa dalam kecupan)
Sebanyak, pasir di laut dan bintang dilangit
Selama, dua perempuan menjauh dari masa untuk berbincang mesra.

Malam,
Kami tahu hari ini Tuhan hanya bicara cinta pada Abraham

Sabang, Jully 2010

Jumat, 16 Juli 2010

22.00

Aku menunggu malam
Aku menunggu gelap
Aku menunggu awan
Aku menunggu kapal
Aku menunggu nya

Jumat, 28 Mei 2010

Penyu, karang, ikan, nyiur, pasir, dan Kamu


Tidak, bukan cuman langit yang bercerita.
Awan dan angin akan membantu untuk menyampaikan ketika hujan tiba.
Saya, sampai di pulau itu bersama rintikan air dan ombak yang menderu. Luapan-luapan gembira dan lega mengradasikan sore.
Saya dan kamu kali ini.
Tidak hanya Saya
Tidak hanya Kamu
Kita, (mungkin)…
Bergandeng tangan menuju dermaga. Menciumi ibu bumi, Lautan
---

”Di mana letak semua harapan terkumpul,” ujarmu
”Saya tidak mau meletakkan pesan di botol-botol picisan itu. Dangdut!” jawab saya
”Kamu hanya takut terlihat manja dan lemah,”
Dan kita bercumbu…
Sekali lagi tanpa malu

Saya tidak pernah merasa begitu retarded, dan menyerah dalam rengkuhan. Ikan berwarna-warni bermain manja di kaki, membuat geli. Dan saya harus tunduk pada kekaguman , akan alam dan makhluk menggoda bernama Kamu.

Bunyi-bunyian shutter memelodikan ritme perjalanan. Peduli amat dengan bintang yang ingin ambil bagian.
Satu hari setelah ini mungkin kita tak saling mempunya. Bertarung lagi dalam idealisme, memulasi tangisan memakai eye shadow dan mascara.

--



Kita tahu kalau penyu mengalami kesakitan yang tak kalah dari perempuan melahirkan.

Sorot matanya ketakutan sewaktu Kamu mendekat. Berjalan berat memakai cangkang tempat perlindungan purba, praktis namun berat. Di tanjung tepat irisan air dan daratan. Kita melihatnya. Berdesak dalam semak merayakan.

Dia mulai mengais pasir, satu kaki disusul lainnya. Nafas kita berdebat mencari tahu letak kehidupan baru. Mengubur ratusan nyawa kecil nan manis untuk dihajar dengan derita.

Jangan kamu bilang ini pernyataan sinikal. Tentang itu, Saya dan Kamu sama-sama menyadarinya. Setruman dan rajaman bersama sorot mata manusia lain. Mengucilkan batangan rokok, kehidupan malam dan ganja dengan bunyi doa serta Masya Allah.

Kita menyesal menjadi manusia tanpa hasrat kemanusiaan. Kudu bertempur ditengah lempung abu-abu supaya sama.

Dan si penyu diam…diam merenung tatapnya haru membiru tanpa bara
Diam dan diam
kami tegak

Dia sudah selesai, sama dengan ibu dan tante dan emak dan pelacur dan saya dan kamu
Sudah siap kembali ke peraduan bersama kepuasan untuk tiga bulan kedepan.
Dia menjadi bagian dari siklus kehidupan, menuntaskan tugas berkembang biak.

Pelan-pelan, halus.

---

”Masih jauh lagi kita harus berlari?” serumu terus menyibak rambut girang
”Tidak jauh lagi, sampai disana dan kita muntahkan,”
Muntahkan kata-kata dan nyanyian sambil berdansa ditengah awal dunia. Berjalan dengan matahari muda membingkai jala nelayan. Menghasilkan puluhan siluet imajinasi ketidaktahuan Plato.

Dunia Kamu, Dunia Saya tanpa temu. Hanya ada satu titik perputaran untuk membuat sadar dan bercinta.
Sebelum habis diatas dermaga dan ucapan selamat tinggal dalam deru perahu motor.

Kalau saja hanya cinta yang diperhitungkan, maka hari ini kita bisa lupakan kasta dan perempuan. Hanya insan yang memuja.

”Ada Ayah dan anak-anak menunggu ibunya pulang membuatkan makan malam,” saya menjelaskan pelan
”Banyak pekerjaan yang masih harus ditanda-tangani dan aku belum selesai,” Kamu menunduk membetulkan letak rok yang selalu tampak anggun.

Bergandengan, meremas, erat mengingat besok yang bukan milik kami.
Milik saya dan Dia, Milik kamu dan Dia. Milik dunia yang tidak mengerti kita

Di pulau mungil ujung Kalimantan ini kita kembali bertemu. Jelajahan-jelajahan mimpi yang terus digerus norma. Membongkar kenistaan dengan wajar. Penyu, karang, ikan, nyiur, pasir, dan Kamu.