
Tidak, bukan cuman langit yang bercerita.
Awan dan angin akan membantu untuk menyampaikan ketika hujan tiba.
Saya, sampai di pulau itu bersama rintikan air dan ombak yang menderu. Luapan-luapan gembira dan lega mengradasikan sore.
Saya dan kamu kali ini.
Tidak hanya Saya
Tidak hanya Kamu
Kita, (mungkin)…
Bergandeng tangan menuju dermaga. Menciumi ibu bumi, Lautan
---
”Di mana letak semua harapan terkumpul,” ujarmu
”Saya tidak mau meletakkan pesan di botol-botol picisan itu. Dangdut!” jawab saya
”Kamu hanya takut terlihat manja dan lemah,”
Dan kita bercumbu…
Sekali lagi tanpa malu
Saya tidak pernah merasa begitu retarded, dan menyerah dalam rengkuhan. Ikan berwarna-warni bermain manja di kaki, membuat geli. Dan saya harus tunduk pada kekaguman , akan alam dan makhluk menggoda bernama Kamu.
Bunyi-bunyian shutter memelodikan ritme perjalanan. Peduli amat dengan bintang yang ingin ambil bagian.
Satu hari setelah ini mungkin kita tak saling mempunya. Bertarung lagi dalam idealisme, memulasi tangisan memakai eye shadow dan mascara.
--

Kita tahu kalau penyu mengalami kesakitan yang tak kalah dari perempuan melahirkan.
Sorot matanya ketakutan sewaktu Kamu mendekat. Berjalan berat memakai cangkang tempat perlindungan purba, praktis namun berat. Di tanjung tepat irisan air dan daratan. Kita melihatnya. Berdesak dalam semak merayakan.
Dia mulai mengais pasir, satu kaki disusul lainnya. Nafas kita berdebat mencari tahu letak kehidupan baru. Mengubur ratusan nyawa kecil nan manis untuk dihajar dengan derita.
Jangan kamu bilang ini pernyataan sinikal. Tentang itu, Saya dan Kamu sama-sama menyadarinya. Setruman dan rajaman bersama sorot mata manusia lain. Mengucilkan batangan rokok, kehidupan malam dan ganja dengan bunyi doa serta Masya Allah.
Kita menyesal menjadi manusia tanpa hasrat kemanusiaan. Kudu bertempur ditengah lempung abu-abu supaya sama.
Dan si penyu diam…diam merenung tatapnya haru membiru tanpa bara
Diam dan diam
kami tegak
Dia sudah selesai, sama dengan ibu dan tante dan emak dan pelacur dan saya dan kamu
Sudah siap kembali ke peraduan bersama kepuasan untuk tiga bulan kedepan.
Dia menjadi bagian dari siklus kehidupan, menuntaskan tugas berkembang biak.
Pelan-pelan, halus.
---
”Masih jauh lagi kita harus berlari?” serumu terus menyibak rambut girang
”Tidak jauh lagi, sampai disana dan kita muntahkan,”
Muntahkan kata-kata dan nyanyian sambil berdansa ditengah awal dunia. Berjalan dengan matahari muda membingkai jala nelayan. Menghasilkan puluhan siluet imajinasi ketidaktahuan Plato.
Dunia Kamu, Dunia Saya tanpa temu. Hanya ada satu titik perputaran untuk membuat sadar dan bercinta.
Sebelum habis diatas dermaga dan ucapan selamat tinggal dalam deru perahu motor.
Kalau saja hanya cinta yang diperhitungkan, maka hari ini kita bisa lupakan kasta dan perempuan. Hanya insan yang memuja.
”Ada Ayah dan anak-anak menunggu ibunya pulang membuatkan makan malam,” saya menjelaskan pelan
”Banyak pekerjaan yang masih harus ditanda-tangani dan aku belum selesai,” Kamu menunduk membetulkan letak rok yang selalu tampak anggun.
Bergandengan, meremas, erat mengingat besok yang bukan milik kami.
Milik saya dan Dia, Milik kamu dan Dia. Milik dunia yang tidak mengerti kita
Di pulau mungil ujung Kalimantan ini kita kembali bertemu. Jelajahan-jelajahan mimpi yang terus digerus norma. Membongkar kenistaan dengan wajar. Penyu, karang, ikan, nyiur, pasir, dan Kamu.